Archive

Archive for November, 2007

Riak Lingkar Gelombang Air(ver 2.0), sebuah konsep dan aplikasi dari integrasi potensi ITB untuk membangkitkan Indonesia

November 17, 2007 1 comment

               I.      Bangsa Indonesia saat ini tengah mengalami fase ketidakjelasan arah gerak. Hal ini dikarenakan para nahkoda kurang bisa mengejawantahkan visi misi yang dimilikinya. Visi misi masih sebatas hal-hal ideal yang jauh dari realita yang dirasakan oleh para penumpang kapal yang bernama Bangsa Indonesia. Jika dilihat dari usia, Negara ini memang masihlah belia. Tetapi kita bisa mengambil contoh dari negara-negara lain dengan rentang usia yang sama. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa jika pendidikan dijadikan pondasi dalam bernegara, maka perjalanan pemerintahan dapat berjalan secara berkesinambungan secara bertahap, beradap karena rakyatnya berwawasan intelek. Rakyat memiliki gambaran yang jelas mau dibawa ke mana bangsa ini 5 tahun, 10 tahun, bahkan 100 tahun lagi. Pemerintahan semesta yang merentang dari masa ke masa dapat dirasakan oleh rakyat yang telah melek pengetahuan. Tetapi realitanya, kesadaran akan pentingnya pendidikan belumlah menjadi suatu tindakan nyata yang dirasakan oleh masyarakat. Para penentu kebijakan yang diamanahi belumlah bersikap amanah. Kalau kita mau belajar dari sejarah maka jika kondisi ini didiamkan, maka bersiap-siaplah peradaban di Indonesia akan ditutup untuk digantikan oleh peradaban yang lain. Tentunya kita tidak ingin Indonesia diambil oleh bangsa lain walaupun secara de facto, kekayaan Indonseia sudah dirampas termasuk hal kecil seperti lagu Rasa Sayange.

Dalam Blue Ocean Strategy ada contoh kejadian menarik yang bisa kita jadikan refleksi, khususnya dalam hal ekonomi. Saat para penentu kebijakan terjebak dalam angka-angka seperti inflasi dan beragam istilah “aneh” lainnya, maka yang terjadi penentu kebijakan tersebut sudah tidak bisa melihat pokok permasalahannya. Secara sederhana rakyat “tidak” butuh angka-angka dimana orang-orang “pintar” berkata bahwa inflasi rendah dan sebagainya. Pernyataan seperti ini seringkali jauh dari kondisi kenyataan yang mereka hadapi. Jika hal ini terus dibiarkan maka akan muncullah rakyat-rakyat yang sakit hati yang menyebabkan kepercayaan kepada penentu kebijakan yang didapat secara “legal” menjadi merosot drastis. Pengkhianat negara yang sebenarnya adalah mereka-mereka yang berada dalam sistem yang legal namun dengan posisinya tersebut, mereka melakukan hal-hal ilegal yang oleh sistem dianggap benar. Padahal kalau dilihat dengan hati nurani, tindakan yang mereka lakukan adalah tindakan yang mengkhianati bangsa Indonesia. Menggerogoti dari dalam sistem adalah kejahatan besar. Kondisi ini mau sampai kapan dibiarkan?

             II.      Kita harus mau belajar dari peradaban dunia yang mengutamakan pendidikan sebagai pembangkit mesin disel kenegarawanan. Dalam pendidikan, kearifan Tuhan ada di dalamnya. Bukan hanya Tuhan yang bersifat menghakimi tetapi prinsip-prinsip menghidupi bumi. Tuhan itu memiliki sifat adil. Sekecil-kecilnya peradaban kalau ia memperhatikan yang lemah, memberikan keadilan, dan berfokus pada mendidik rakyatnya,  maka peradaban tersebut akan maju. Rakyat akan tahu di mana posisinya dan di bidang apa kontribusi yang ia dapat berikan bagi bangsa. Jika kita menganalogikan sebagai kapal, maka tidak setiap orang akan menjadi nahkoda. Ada yang menjadi tiang, tali tambang, layer, bahkan mur kecil. Kapal yang kuat adalah kapal yang semua komponen terbaiknya diposisikan sesuai dengan fungsinya. Sang baut yang terbaik berada sesuai dengan fungsinya. Tiang kapal terbaik diposisikan sebagai tiang dan sebagainya. Analogi suatu bangsa juga seperti kapal. Jika masyarakat sudah terdidik, maka setiap masyarakat sadar akan posisinya dan memiliki keinginan untuk berkontribusi meninggalkan sesuatu bagi bangsanya, bukan hanya sekedar numpang hidup untuk kemudian mati. Kondisi ini mau sampai kapan dibiarkan?

            III.      Berbicara tentang pendidikan kita tidak bisa lepas dari tunas-tunas muda. Hal yang mungkin selama ini terlupakan oleh generasi lulusan ITB adalah pendidikan dasar. Saat ini mungkin banyak masyarakat yang beralih menjadi masyarakat yang apatis yang hanya berpikir untuk diri sendiri saja. Selama saya aman dan kenyamanan saya tercukupi, sudah cukup. Melalui pendidikan dasar, kita bisa memutus generasi apatis ini. Masa-masa pendidikan dasar harus dikelola dengan baik dengan memberikan pengajar-pengajar yang baik, berkarakter, berkualitas, dan beradap. ITB memiliki aset besar yaitu orang-orang yang secara intelektual dapat diandalkan. Salah satu faktornya adalah seleksi untuk masuk ke ITB yang sangat ketat. Orang-orang berintelek ini harus memiliki kesadaran untuk mendidik para tunas bangsa yang masih hijau dan bersih yang berada pada tingkat pendidikan dasar. Menjadi inspirasi bagi orang-orang muda seusia pendidikan dasar adalah keharusan agar pengajar ini mampu menjadi inspirasi bagi mereka. Kenyataan, banyak pengajar-pengajar di tingkat pendidikan dasar (baca: guru SD) yang mengubur impian sang tunas muda ini. Contohnya antara lain, anak-anak Indonesia yang cenderung tidak berani bertanya. Bertanya identik dengan kebodohan, takut ditertawakan, sehingga menjadi generasi yang memalukan. Belum lagi didikan sang guru untuk berbuat curang agar nilai  UAN (Ujian Akhir Nasional) di sekolah tersebut menjadi naik sehingga sekolah tersebut mendapat julukan sekolah terbaik. Hal ini dimaksudkan agar banyak siswa baru yang didaftarkan di sekolah tersebut. Jika sejak dini tunas-tunas muda dicekoki dengan hal yang tidak benar (tidak benar yang dimaksud  berstandar pada hati nurani manusia), maka hal yang tidak benar ini akan dipandang sebagai kebenaran bagi mereka karena mayoritas orang melakukan seperti itu. Bayangkan apa yang terjadi saat nanti mereka mendapatkan suatu posisi penentu kebijakan.

Saat ini masyarakat kebanyakan telah terjebak menjadi generasi apatis yang terjebak dalam pada tontonan “sirkus-sirkus” yang dibungkus dalam tayangan infoteinment. Tayangan-tayan gan ini menjadi semacam pelarian mereka dari dunia kenyataan. Pemerintah pun sebagai penentu regulasi tidak bisa berbuat banyak karena uanglah yang berkuasa. Hal ini dapat penulis simbulkan saat diskusi singkat yang diadakan setelah shalat taraweh Ramadhan lalu di Masjid Salman ITB dengan Menkominfo sebagai penceramahnya. Pemerintah tidak berdaya mengatur. Reformasi menjadi kebablasan tak tentu arah. Kondisi ini mau sampai kapan dibiarkan?

          IV.      Lantas akan timbul pertanyaan, bagaimana seorang negarawan yang baik itu bertingkahlaku? Penulis akan mengambil salah seorang contoh negarawan yang pernah hidup di Indonesia. Beliau adalah Mohammad Hatta dengan kasus yang menjadi tolak ukur penulis adalah saat sanering. Sanering adalah saat mata uang rupiah nilainya dipotong menjadi setengahnya (Rp. 100 menjadi Rp 50, dst). Penulis akan menceritakan sekelumit. Sebagai seorang wakil presiden, Mohammad Hatta mengetahui bahwa esok adalah hari di mana kebijakan sanering diberlakukan. Sebagai seorang suami, beliau juga tahu bahwa istrinya akan membeli sebuah mesin jahit. Saat hari sanering tiba, istrinya sambil “mengeluh” bertanya kepada Mohammad Hatta. Penulis membahasakan dengan bahasa penulis tanpa mengurangi maksudnya. Sang istri bertanya: ”Kanda, mengapa Kanda tidak memberitahu Adinda bahwa hari ini nilai mata uang rupiah dipotong setengahnya. Kanda kan tahu kalau Adinda mau membeli mesin jahit. Uang yang sudah terkumpul menjadi tidak cukup karena sanering padahal sebelumnya sudah cukup.” Negarawan kita pun menjawab dengan penuh kasih: “Adinda sayang, mesin jahit adalah masalah pribadi, sanering adalah masalah negara. Kanda tidak bisa membocorkan rahasia negara kepada Adinda karena kepentingan pribadi semata.” Sang istri pun memahaminya dengan tulus. Nah, itulah negarawan menurut kacamata penulis. Negarawan adalah seseorang yang mampu membedakan antara kepentingan bangsa dan kepentingan pribadi. Karena posisinya sebagai pembuat kebijakan, ia tidak akan mengeruk keuntungan pribadi dari pengetahuannya terhadap kebijakan yang dibuat.

Berbeda dengan kebanyakan pemimpin kita saat ini, pemikiran yang muncul adalah: “Saya ngasih duit berapa? Saya dapat posisi apa?” Konsep pemikiran seperti ini hanya menghasilkan pemikiran bahwa saat menjabat, ia ingin mendapatkan kembali investasi yang telah dikeluarkan. Konsep negarawan tidaklah seperti itu, ia ingin generasi ke depan lebih baik dari padanya. Saat ini di Indonesia terjadi krisis negarawan. Kondisi ini mau sampai kapan dibiarkan?

            V.      Saat penulis menjadi mahasiswa di ITB tepatnya tahun 2003, penulis pernah membuat esai singkat dan karya tulis ilmiah mengenai konsep membangun dengan menggunakan prinsip yang penulis sebut sebagai riak lingkar gelombang air (diakronimkan menjadi riliga)[1]. Konsepnya kurang lebih begini: Apabila sebuah batu kita lemparkan ke dalam sebuah kolam, maka akan timbul riak gelombang berbentuk lingkaran dengan pusat lingkaran berada pada bidang di mana batu itu mengenai air. Arah gerak gelombangnya radial dari arah pusat lingkaran. Semakin besar massa batu yang dilempar, semakin besar pula riak lingkaran gelombang air yang terbentuk sehingga semakin jauh jangkauan lingkaran yang dapat dicapainya. Batu melambangkan segenap potensi yang dimiliki ITB baik mahasiswa, dosen, karyawan, maupun alumninya. Kolam melambangkan wilayah Indonesia. Makin banyak “batu” yang dilemparkan ke dalam kolam, makin banyak pula pusat riak gelombang lingkaran air yang terbentuk. Riak gelombang melambangkan kontribusi yang dilakukan oleh masyarakat ITB.

Alumni ITB

Pendidikan Dasar

Alumni ITB

Birokrat/

Pemerintahan

Institusi ITB

Perguruan Tinggi

Alumni ITB Corporate

Kesadaran kritis untuk Indonesia

Seiring dengan bertambahnya pengalaman dan pengembaraan penulis, prinsip riliga mengalami pengembangan.. Pengembangan ini penulis sebut sebagai riak lingkar gelombang air (ver 2.0).

   

 

 

 

 

 

 

Adapun keempat komponen yang dapat menggerakkan dan membangun kembali bangsa Indonesia antara lain:

  1. Institusi ITB yaitu Perguruan Tinggi
  2. Alumni ITB yang berkiprah dalam Corporate
  3. Alumni ITB yang berkiprah dalam  Birokrasi/Pemerintahan
  4. Alumni ITB yang bergerak dalam Pendidikan Dasar

 

 

Secara umum keempat komponen di atas mengurusi tiga hal yaitu pendidikan, pemerintahan, dan korporat. Penulis memisahkan antara pendidikan dasar dan pendidikan tinggi karena penulis menulai alumni yang bergerak dalam pendidikan dasar belumlah mendapat lirikan dan perhatian dari civitas ITB.

  1. Institusi ITB yaitu Perguruan Tinggi

Institusi ITB tidak boleh terjebak di atas menara gadingnya. Institusi ITB meliputi dosen, mahasiswa, karyawan, dan penentu kebijakan ITB yang bernama rektorat. Saat ini d iTB sering terdengar mengenai World Class University. World Class University memang penting tetapi yang tak kalah pentingnya adalah membangun kesadaran pada mahasiswa tentang nilai-nilai kebangsaan dengan tujuan mengangkat martabat bangsa sesuai dengan keilmuan masing-masing. Pengajaran ilmu yang hanya berorientasi pada academic excellent belumlah cukup. Fokus mahasiswa hanya untuk kuliah saja menyebabkan mahasiswa menjadi kebingungan saat lulus nanti karena terkadang ilmu yang dipelajarinya terlalu tinggi ketika berhadapan dengan realita di masyarakat sehingga tidak teraplikasi dengan baik. Selain itu, mahasiswa akan menjadi tumpul nilai-nilai sosialnya sehingga hanya mementingkan keselamatan sendiri. Gejala ini sangat dirasakan saat ini. Kesadaran sosial dapat dimunculkan dengan memberi dukungan bagi mahasiswa-mahasiswa yang aktif dalam organisasi di kampus. Organisasi mahasiswa merupakan sarana untuk menjembatani ilmu yang mereka miliki untuk dikomunikasikan kepada masyarakat. Penetapan regulasi-regulasi kampus yang menakuti-nakuti mahasiswa baru untuk aktif dalam organisasi menyebabkan munculnya generasi yang tidak peduli terhadap lingkungan. Hal ini sudah semestinya ditinggalkan. Softskill itu sendiri dapat dilatih di dalam organisasi mahasiswa sehingga otak kiri dan kanan menjadi seimbang, tidak pincang. Pembuat regulasi kampus harus merangkul mahasiswa dengan mengajaknya berakademik yang cemerlang dan berkontribusi bagi lingkungan sekitar sehingga mereka tidak terjebak hanya akademik semata tetapi kosong akan makna pendidikan dan ilmu pengetahuan  itu sendiri. Penulis mengibaratkan institusi ITB merupakan agen pembawa Kunci Transformasi.

 

  1. Alumni ITB yang berkiprah dalam Corporate.  

Inilah mungkin alumni ITB yang sering muncul dalam temu alumni ITB. Mereka memegang Kunci Materi. Almuni yang mendapat amanah dalam perusahaan-perusahaan harus menumbuhkan social corporate awareness. Dana yang dialokasikan ini dapat digunakan untuk mendukung alumni ITB yang bergerak dalam sektor pendidikan dasar dan institusi ITB. Program Corporate Social Responsibilities  (CSR) dapat digunakan untuk memperbaiki saran kampus, laboratorium, dan memberi kesempatan bagi mahasiswa ITB untuk merasakan dunia kerja dalam program magang. Selain itu, dukungan juga diberikan pada alumni yang bergerak di pendidikan dasar. Pendidikan tidaklah sepenuhnya ditopang oleh SPP siswa atau mahasiswa. Pendidikan yang berkualitas butuh investasi lebih yang bisa didapat dari para alumni ITB yang bergerak dalam corporate yang tentunya telah sadar akan posisinya. Dana yang didapat tentunya dana legal dan bukan dari hasil kegiatan yang tidak benar. Seperti yang telah disinggung di atas, penulis mengibaratkan Alumni ITB yang berkiprah dalam Corporate merupakan agen pembawa Kunci Materi

 

  1. Alumni ITB yang berkiprah dalam  Birokrasi/Pemerintahan.

Almuni yang berada dalam posisi ini penulis ibaratkan memegang Kunci Kebijakan. Kunci kebijakan kita ibaratkan seperti keran air. Jikalau orang yang memutar keran ini baik, maka air akan terbagi secara merata ke seluruh negeri. Namun begitu pemegang keran air itu tidak baik, maka ia dapat menyalahgunakan posisinya dengan ikut meminum air yang bukan haknya. Di sinilah letak kekuatan sekaligus kerapuhan alumni yang berada di posisi ini. Rapuh andaikan ia tidak cukup kuat akhlaknya. Kuat jika ia mampu bertindak jujur. Alumni yang berada di posisi ini dapat mendukung komponen-komponen alumni lainnya selama tindakan dan kegiatan yang dilakukan alumni berguna bagi masyarakat banyak dengan kata lain tidak merugikan bangsa Indonesia. Misalnya saat institusi ITB mengeluarkan suatu konsep tata ruang kota lengkap dengan peruntukan daerahnya, maka alumni ITB yang berada dalam daerah kukuasaan pembuat kebijakan akan berjuang dengan sepenuh tenaga agar kebijakan ini digolkan. Demikian pula saat alumni ITB yang bergerak dalam pendidikan dasar memiliki kendala dalam hal perijinan, alumni corporate membantunya. Tentunya tetap dalam kerangka demi kemajuan bangsa tanpa melanggar peraturan yang ada.

 

  1. Alumni ITB yang bergerak dalam Pendidikan Dasar    

Alumni yang satu ini kurang mendapat sorotan dalam komunitas alumni ITB, misalnya dalam Ikatan Alumni ITB. Penulis mengibaratkan alumni yang bergerak di bidang ini memegang Kunci Pondasi. Pertama kita lihat kondisi realitanya. Walaupun secara regulasi ditetapkan bahwa anggaran pendidikan 20% dari APBN, realitanya jauh dari ini. Para pendidik yang mengurusi pendidikan dasar masih berkutat dalam pemenuhan kebutuhan primer sehingga terkadang dalam mencurahkan pengajarannya kepada siswa menjadi tidak optimal. Gaji rendah, penghargaan rendah, hidup tak layak menyebabkan banyak alumni yang kurang berminat untuk menggeluti profesi ini. Paradigma ini seharusnya kita putus sampai di sini jika kita ingin merawat tunas bangsa sejak dini. Jika masyarakat yang cerdas mau turun gunung untuk mengajari di pendidikan dasar, tentunya dapat dibayangkan masyarakat apa yang nantinya diciptakan. Tentunya masyarakat yang cerdas ini selain dengan kesadarannya, ia perlu didukung oleh komunitas yang lain dalam hal ini ITB yang bergerak dalam birokrat dengan kebijakannya, corporat dengan CSR-nya, dan Perguruan Tinggi dengan fasilitas yang dimilikinya. Mengutip The 8th Habit karya Stephen R. Covey, seorang guru harus bisa menginspirasi orang lain (dalam hal ini siswanya) untuk menemukan kata hatinya sehingga ia bisa menjadi bilah kemudi kecil yang turut menggerakkan bilah besar bangsa ini. Untuk bisa menginspirasi, seorang guru harus terinspirasi dengan hal-hal baru yang menyebabkan pikirannya selalu terbuka dan tidak terjebak dalam rutinitas mentransfer ilmu tanpa hati. Karena itu, profesi guru harus dilindungi karena Kunci Pondasi terletak padanya.

 

 

Keempat komponen itu diikat/dipatok oleh satu buah pasak besar yang bernama Kesadaran Kritis untuk Indonesia. Kita sebagai alumni ITB tentunya tidak ingin bangsa Indonesia hancur. Temu alumni yang penulis rasakan selama ini hanyalah menjadi ajang temu alumni sukses dengan parameter materi (entah mobil, rumah, perusahaan, dll) sebagai tolak ukurnya. Alumni yang masih merintis karya nyata yang dimulai dari mimpi dan idelaismenya seakan tidak mendapat tempat terhormat. Aksi yang baik walaupun masih belum terlihat karena terkendala sesuatu (dana, sistem, kebijakan, dll) tentunya harus mendapat dukungan dari alumni yang mempunyai kunci membuka kendala tersebut. Hal ini dijalankan kalau kita memiliki kesadaran yang sama dan sepakat untuk membuat bangsa Indoensia maju dan merdeka secara de facto. Konsep ini bukan berarti alumni birokrat dan corporate berposisi di atas karena memberi dana dan membuka jalan, sedangkan institusi ITB dan alumni yang bergerak di pendidikan dasar berada di posisi di bawah karena menerima. Poin pentingnya terletak pada kesadaran akan kelebihan dan kekurangan posisinya masing-masing. Yang lebih memberikan ke yang kurang, yang kurang menerima tanpa merasa meminta. Namun kembali ke diri masing-masing, kalau tidak ingin dan tidak sepakat, maka tulisan ini biarlah hanya dianggap sebagai angin lalu dan sebuah manuskrip kosong belaka. Masih adakah anak bangsa jebolan ITB yang peduli? Kondisi ini mau sampai kapan dibiarkan?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Aplikasi Riliga dalam ranah kekuasaan Penulis

Konsep di atas bukanlah konsep mengawang-awang. Secara mikro penulis mencoba menerapkannya dalam posisi-posisi yang berada dalam kekuasaan penulis. Penulis tidak akan menjabarkannya secara detail tetapi akan menerangkannya secara umum saja.

Sebuah kegiatan nasional yang bertajuk gathering astronomi bermula dari gagasan beberapa alumni dan mahasiswa Astronomi ITB. Gagasan ini diformalkan dalam bentuk kepanitiaan yang awalnya bermodalkan mahasiswa dan alumni ITB. Kegiatan ini bernama Astronomical Gathering: Southern Sky Star Party 2007 yang berlokasi di Sumedang. Karena kegiatan ini, institusi yang awalnya kesulitan air menjadi tidak kekurangan air lagi karena penentu kebijakan di pusat membuka aliran dananya membangun bak penampungan air. Namun ada sayangnya, SD-SD lokal tidak terberdayakan karena tidak ada dana yang turun dari pemerintah daerah setempat. Dalam konsep riliga, kontribusi ITB dalam hal ini alumni dan mahasiswa membantu permasalahan air yang melanda institusi penelitian tersebut dengan membuatkan kegiatan nasional di tempat tersebut. Kegiatan nasional ini pun terpublikasikan dalam koran lokal dan nasional dalam beberapa kali penerbitan. Secara internasional, kegiatan ini pun telah dipublikasikan dan dipresentasikan oleh salah seorang alumnus ITB (Sdri. Avivah Yamani R.) dalam pertemuan internasional IAU (International Astronomical Union) di Yunani sehingga nama Indonesia tercatat sebagai salah satu bangsa yang memiliki interest terhadap ilmu pengetahuan khususnya astronomi.


Categories: Uncategorized