Archive

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Riak Lingkar Gelombang Air(ver 2.0), sebuah konsep dan aplikasi dari integrasi potensi ITB untuk membangkitkan Indonesia

November 17, 2007 1 comment

               I.      Bangsa Indonesia saat ini tengah mengalami fase ketidakjelasan arah gerak. Hal ini dikarenakan para nahkoda kurang bisa mengejawantahkan visi misi yang dimilikinya. Visi misi masih sebatas hal-hal ideal yang jauh dari realita yang dirasakan oleh para penumpang kapal yang bernama Bangsa Indonesia. Jika dilihat dari usia, Negara ini memang masihlah belia. Tetapi kita bisa mengambil contoh dari negara-negara lain dengan rentang usia yang sama. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa jika pendidikan dijadikan pondasi dalam bernegara, maka perjalanan pemerintahan dapat berjalan secara berkesinambungan secara bertahap, beradap karena rakyatnya berwawasan intelek. Rakyat memiliki gambaran yang jelas mau dibawa ke mana bangsa ini 5 tahun, 10 tahun, bahkan 100 tahun lagi. Pemerintahan semesta yang merentang dari masa ke masa dapat dirasakan oleh rakyat yang telah melek pengetahuan. Tetapi realitanya, kesadaran akan pentingnya pendidikan belumlah menjadi suatu tindakan nyata yang dirasakan oleh masyarakat. Para penentu kebijakan yang diamanahi belumlah bersikap amanah. Kalau kita mau belajar dari sejarah maka jika kondisi ini didiamkan, maka bersiap-siaplah peradaban di Indonesia akan ditutup untuk digantikan oleh peradaban yang lain. Tentunya kita tidak ingin Indonesia diambil oleh bangsa lain walaupun secara de facto, kekayaan Indonseia sudah dirampas termasuk hal kecil seperti lagu Rasa Sayange.

Dalam Blue Ocean Strategy ada contoh kejadian menarik yang bisa kita jadikan refleksi, khususnya dalam hal ekonomi. Saat para penentu kebijakan terjebak dalam angka-angka seperti inflasi dan beragam istilah “aneh” lainnya, maka yang terjadi penentu kebijakan tersebut sudah tidak bisa melihat pokok permasalahannya. Secara sederhana rakyat “tidak” butuh angka-angka dimana orang-orang “pintar” berkata bahwa inflasi rendah dan sebagainya. Pernyataan seperti ini seringkali jauh dari kondisi kenyataan yang mereka hadapi. Jika hal ini terus dibiarkan maka akan muncullah rakyat-rakyat yang sakit hati yang menyebabkan kepercayaan kepada penentu kebijakan yang didapat secara “legal” menjadi merosot drastis. Pengkhianat negara yang sebenarnya adalah mereka-mereka yang berada dalam sistem yang legal namun dengan posisinya tersebut, mereka melakukan hal-hal ilegal yang oleh sistem dianggap benar. Padahal kalau dilihat dengan hati nurani, tindakan yang mereka lakukan adalah tindakan yang mengkhianati bangsa Indonesia. Menggerogoti dari dalam sistem adalah kejahatan besar. Kondisi ini mau sampai kapan dibiarkan?

             II.      Kita harus mau belajar dari peradaban dunia yang mengutamakan pendidikan sebagai pembangkit mesin disel kenegarawanan. Dalam pendidikan, kearifan Tuhan ada di dalamnya. Bukan hanya Tuhan yang bersifat menghakimi tetapi prinsip-prinsip menghidupi bumi. Tuhan itu memiliki sifat adil. Sekecil-kecilnya peradaban kalau ia memperhatikan yang lemah, memberikan keadilan, dan berfokus pada mendidik rakyatnya,  maka peradaban tersebut akan maju. Rakyat akan tahu di mana posisinya dan di bidang apa kontribusi yang ia dapat berikan bagi bangsa. Jika kita menganalogikan sebagai kapal, maka tidak setiap orang akan menjadi nahkoda. Ada yang menjadi tiang, tali tambang, layer, bahkan mur kecil. Kapal yang kuat adalah kapal yang semua komponen terbaiknya diposisikan sesuai dengan fungsinya. Sang baut yang terbaik berada sesuai dengan fungsinya. Tiang kapal terbaik diposisikan sebagai tiang dan sebagainya. Analogi suatu bangsa juga seperti kapal. Jika masyarakat sudah terdidik, maka setiap masyarakat sadar akan posisinya dan memiliki keinginan untuk berkontribusi meninggalkan sesuatu bagi bangsanya, bukan hanya sekedar numpang hidup untuk kemudian mati. Kondisi ini mau sampai kapan dibiarkan?

            III.      Berbicara tentang pendidikan kita tidak bisa lepas dari tunas-tunas muda. Hal yang mungkin selama ini terlupakan oleh generasi lulusan ITB adalah pendidikan dasar. Saat ini mungkin banyak masyarakat yang beralih menjadi masyarakat yang apatis yang hanya berpikir untuk diri sendiri saja. Selama saya aman dan kenyamanan saya tercukupi, sudah cukup. Melalui pendidikan dasar, kita bisa memutus generasi apatis ini. Masa-masa pendidikan dasar harus dikelola dengan baik dengan memberikan pengajar-pengajar yang baik, berkarakter, berkualitas, dan beradap. ITB memiliki aset besar yaitu orang-orang yang secara intelektual dapat diandalkan. Salah satu faktornya adalah seleksi untuk masuk ke ITB yang sangat ketat. Orang-orang berintelek ini harus memiliki kesadaran untuk mendidik para tunas bangsa yang masih hijau dan bersih yang berada pada tingkat pendidikan dasar. Menjadi inspirasi bagi orang-orang muda seusia pendidikan dasar adalah keharusan agar pengajar ini mampu menjadi inspirasi bagi mereka. Kenyataan, banyak pengajar-pengajar di tingkat pendidikan dasar (baca: guru SD) yang mengubur impian sang tunas muda ini. Contohnya antara lain, anak-anak Indonesia yang cenderung tidak berani bertanya. Bertanya identik dengan kebodohan, takut ditertawakan, sehingga menjadi generasi yang memalukan. Belum lagi didikan sang guru untuk berbuat curang agar nilai  UAN (Ujian Akhir Nasional) di sekolah tersebut menjadi naik sehingga sekolah tersebut mendapat julukan sekolah terbaik. Hal ini dimaksudkan agar banyak siswa baru yang didaftarkan di sekolah tersebut. Jika sejak dini tunas-tunas muda dicekoki dengan hal yang tidak benar (tidak benar yang dimaksud  berstandar pada hati nurani manusia), maka hal yang tidak benar ini akan dipandang sebagai kebenaran bagi mereka karena mayoritas orang melakukan seperti itu. Bayangkan apa yang terjadi saat nanti mereka mendapatkan suatu posisi penentu kebijakan.

Saat ini masyarakat kebanyakan telah terjebak menjadi generasi apatis yang terjebak dalam pada tontonan “sirkus-sirkus” yang dibungkus dalam tayangan infoteinment. Tayangan-tayan gan ini menjadi semacam pelarian mereka dari dunia kenyataan. Pemerintah pun sebagai penentu regulasi tidak bisa berbuat banyak karena uanglah yang berkuasa. Hal ini dapat penulis simbulkan saat diskusi singkat yang diadakan setelah shalat taraweh Ramadhan lalu di Masjid Salman ITB dengan Menkominfo sebagai penceramahnya. Pemerintah tidak berdaya mengatur. Reformasi menjadi kebablasan tak tentu arah. Kondisi ini mau sampai kapan dibiarkan?

          IV.      Lantas akan timbul pertanyaan, bagaimana seorang negarawan yang baik itu bertingkahlaku? Penulis akan mengambil salah seorang contoh negarawan yang pernah hidup di Indonesia. Beliau adalah Mohammad Hatta dengan kasus yang menjadi tolak ukur penulis adalah saat sanering. Sanering adalah saat mata uang rupiah nilainya dipotong menjadi setengahnya (Rp. 100 menjadi Rp 50, dst). Penulis akan menceritakan sekelumit. Sebagai seorang wakil presiden, Mohammad Hatta mengetahui bahwa esok adalah hari di mana kebijakan sanering diberlakukan. Sebagai seorang suami, beliau juga tahu bahwa istrinya akan membeli sebuah mesin jahit. Saat hari sanering tiba, istrinya sambil “mengeluh” bertanya kepada Mohammad Hatta. Penulis membahasakan dengan bahasa penulis tanpa mengurangi maksudnya. Sang istri bertanya: ”Kanda, mengapa Kanda tidak memberitahu Adinda bahwa hari ini nilai mata uang rupiah dipotong setengahnya. Kanda kan tahu kalau Adinda mau membeli mesin jahit. Uang yang sudah terkumpul menjadi tidak cukup karena sanering padahal sebelumnya sudah cukup.” Negarawan kita pun menjawab dengan penuh kasih: “Adinda sayang, mesin jahit adalah masalah pribadi, sanering adalah masalah negara. Kanda tidak bisa membocorkan rahasia negara kepada Adinda karena kepentingan pribadi semata.” Sang istri pun memahaminya dengan tulus. Nah, itulah negarawan menurut kacamata penulis. Negarawan adalah seseorang yang mampu membedakan antara kepentingan bangsa dan kepentingan pribadi. Karena posisinya sebagai pembuat kebijakan, ia tidak akan mengeruk keuntungan pribadi dari pengetahuannya terhadap kebijakan yang dibuat.

Berbeda dengan kebanyakan pemimpin kita saat ini, pemikiran yang muncul adalah: “Saya ngasih duit berapa? Saya dapat posisi apa?” Konsep pemikiran seperti ini hanya menghasilkan pemikiran bahwa saat menjabat, ia ingin mendapatkan kembali investasi yang telah dikeluarkan. Konsep negarawan tidaklah seperti itu, ia ingin generasi ke depan lebih baik dari padanya. Saat ini di Indonesia terjadi krisis negarawan. Kondisi ini mau sampai kapan dibiarkan?

            V.      Saat penulis menjadi mahasiswa di ITB tepatnya tahun 2003, penulis pernah membuat esai singkat dan karya tulis ilmiah mengenai konsep membangun dengan menggunakan prinsip yang penulis sebut sebagai riak lingkar gelombang air (diakronimkan menjadi riliga)[1]. Konsepnya kurang lebih begini: Apabila sebuah batu kita lemparkan ke dalam sebuah kolam, maka akan timbul riak gelombang berbentuk lingkaran dengan pusat lingkaran berada pada bidang di mana batu itu mengenai air. Arah gerak gelombangnya radial dari arah pusat lingkaran. Semakin besar massa batu yang dilempar, semakin besar pula riak lingkaran gelombang air yang terbentuk sehingga semakin jauh jangkauan lingkaran yang dapat dicapainya. Batu melambangkan segenap potensi yang dimiliki ITB baik mahasiswa, dosen, karyawan, maupun alumninya. Kolam melambangkan wilayah Indonesia. Makin banyak “batu” yang dilemparkan ke dalam kolam, makin banyak pula pusat riak gelombang lingkaran air yang terbentuk. Riak gelombang melambangkan kontribusi yang dilakukan oleh masyarakat ITB.

Alumni ITB

Pendidikan Dasar

Alumni ITB

Birokrat/

Pemerintahan

Institusi ITB

Perguruan Tinggi

Alumni ITB Corporate

Kesadaran kritis untuk Indonesia

Seiring dengan bertambahnya pengalaman dan pengembaraan penulis, prinsip riliga mengalami pengembangan.. Pengembangan ini penulis sebut sebagai riak lingkar gelombang air (ver 2.0).

   

 

 

 

 

 

 

Adapun keempat komponen yang dapat menggerakkan dan membangun kembali bangsa Indonesia antara lain:

  1. Institusi ITB yaitu Perguruan Tinggi
  2. Alumni ITB yang berkiprah dalam Corporate
  3. Alumni ITB yang berkiprah dalam  Birokrasi/Pemerintahan
  4. Alumni ITB yang bergerak dalam Pendidikan Dasar

 

 

Secara umum keempat komponen di atas mengurusi tiga hal yaitu pendidikan, pemerintahan, dan korporat. Penulis memisahkan antara pendidikan dasar dan pendidikan tinggi karena penulis menulai alumni yang bergerak dalam pendidikan dasar belumlah mendapat lirikan dan perhatian dari civitas ITB.

  1. Institusi ITB yaitu Perguruan Tinggi

Institusi ITB tidak boleh terjebak di atas menara gadingnya. Institusi ITB meliputi dosen, mahasiswa, karyawan, dan penentu kebijakan ITB yang bernama rektorat. Saat ini d iTB sering terdengar mengenai World Class University. World Class University memang penting tetapi yang tak kalah pentingnya adalah membangun kesadaran pada mahasiswa tentang nilai-nilai kebangsaan dengan tujuan mengangkat martabat bangsa sesuai dengan keilmuan masing-masing. Pengajaran ilmu yang hanya berorientasi pada academic excellent belumlah cukup. Fokus mahasiswa hanya untuk kuliah saja menyebabkan mahasiswa menjadi kebingungan saat lulus nanti karena terkadang ilmu yang dipelajarinya terlalu tinggi ketika berhadapan dengan realita di masyarakat sehingga tidak teraplikasi dengan baik. Selain itu, mahasiswa akan menjadi tumpul nilai-nilai sosialnya sehingga hanya mementingkan keselamatan sendiri. Gejala ini sangat dirasakan saat ini. Kesadaran sosial dapat dimunculkan dengan memberi dukungan bagi mahasiswa-mahasiswa yang aktif dalam organisasi di kampus. Organisasi mahasiswa merupakan sarana untuk menjembatani ilmu yang mereka miliki untuk dikomunikasikan kepada masyarakat. Penetapan regulasi-regulasi kampus yang menakuti-nakuti mahasiswa baru untuk aktif dalam organisasi menyebabkan munculnya generasi yang tidak peduli terhadap lingkungan. Hal ini sudah semestinya ditinggalkan. Softskill itu sendiri dapat dilatih di dalam organisasi mahasiswa sehingga otak kiri dan kanan menjadi seimbang, tidak pincang. Pembuat regulasi kampus harus merangkul mahasiswa dengan mengajaknya berakademik yang cemerlang dan berkontribusi bagi lingkungan sekitar sehingga mereka tidak terjebak hanya akademik semata tetapi kosong akan makna pendidikan dan ilmu pengetahuan  itu sendiri. Penulis mengibaratkan institusi ITB merupakan agen pembawa Kunci Transformasi.

 

  1. Alumni ITB yang berkiprah dalam Corporate.  

Inilah mungkin alumni ITB yang sering muncul dalam temu alumni ITB. Mereka memegang Kunci Materi. Almuni yang mendapat amanah dalam perusahaan-perusahaan harus menumbuhkan social corporate awareness. Dana yang dialokasikan ini dapat digunakan untuk mendukung alumni ITB yang bergerak dalam sektor pendidikan dasar dan institusi ITB. Program Corporate Social Responsibilities  (CSR) dapat digunakan untuk memperbaiki saran kampus, laboratorium, dan memberi kesempatan bagi mahasiswa ITB untuk merasakan dunia kerja dalam program magang. Selain itu, dukungan juga diberikan pada alumni yang bergerak di pendidikan dasar. Pendidikan tidaklah sepenuhnya ditopang oleh SPP siswa atau mahasiswa. Pendidikan yang berkualitas butuh investasi lebih yang bisa didapat dari para alumni ITB yang bergerak dalam corporate yang tentunya telah sadar akan posisinya. Dana yang didapat tentunya dana legal dan bukan dari hasil kegiatan yang tidak benar. Seperti yang telah disinggung di atas, penulis mengibaratkan Alumni ITB yang berkiprah dalam Corporate merupakan agen pembawa Kunci Materi

 

  1. Alumni ITB yang berkiprah dalam  Birokrasi/Pemerintahan.

Almuni yang berada dalam posisi ini penulis ibaratkan memegang Kunci Kebijakan. Kunci kebijakan kita ibaratkan seperti keran air. Jikalau orang yang memutar keran ini baik, maka air akan terbagi secara merata ke seluruh negeri. Namun begitu pemegang keran air itu tidak baik, maka ia dapat menyalahgunakan posisinya dengan ikut meminum air yang bukan haknya. Di sinilah letak kekuatan sekaligus kerapuhan alumni yang berada di posisi ini. Rapuh andaikan ia tidak cukup kuat akhlaknya. Kuat jika ia mampu bertindak jujur. Alumni yang berada di posisi ini dapat mendukung komponen-komponen alumni lainnya selama tindakan dan kegiatan yang dilakukan alumni berguna bagi masyarakat banyak dengan kata lain tidak merugikan bangsa Indonesia. Misalnya saat institusi ITB mengeluarkan suatu konsep tata ruang kota lengkap dengan peruntukan daerahnya, maka alumni ITB yang berada dalam daerah kukuasaan pembuat kebijakan akan berjuang dengan sepenuh tenaga agar kebijakan ini digolkan. Demikian pula saat alumni ITB yang bergerak dalam pendidikan dasar memiliki kendala dalam hal perijinan, alumni corporate membantunya. Tentunya tetap dalam kerangka demi kemajuan bangsa tanpa melanggar peraturan yang ada.

 

  1. Alumni ITB yang bergerak dalam Pendidikan Dasar    

Alumni yang satu ini kurang mendapat sorotan dalam komunitas alumni ITB, misalnya dalam Ikatan Alumni ITB. Penulis mengibaratkan alumni yang bergerak di bidang ini memegang Kunci Pondasi. Pertama kita lihat kondisi realitanya. Walaupun secara regulasi ditetapkan bahwa anggaran pendidikan 20% dari APBN, realitanya jauh dari ini. Para pendidik yang mengurusi pendidikan dasar masih berkutat dalam pemenuhan kebutuhan primer sehingga terkadang dalam mencurahkan pengajarannya kepada siswa menjadi tidak optimal. Gaji rendah, penghargaan rendah, hidup tak layak menyebabkan banyak alumni yang kurang berminat untuk menggeluti profesi ini. Paradigma ini seharusnya kita putus sampai di sini jika kita ingin merawat tunas bangsa sejak dini. Jika masyarakat yang cerdas mau turun gunung untuk mengajari di pendidikan dasar, tentunya dapat dibayangkan masyarakat apa yang nantinya diciptakan. Tentunya masyarakat yang cerdas ini selain dengan kesadarannya, ia perlu didukung oleh komunitas yang lain dalam hal ini ITB yang bergerak dalam birokrat dengan kebijakannya, corporat dengan CSR-nya, dan Perguruan Tinggi dengan fasilitas yang dimilikinya. Mengutip The 8th Habit karya Stephen R. Covey, seorang guru harus bisa menginspirasi orang lain (dalam hal ini siswanya) untuk menemukan kata hatinya sehingga ia bisa menjadi bilah kemudi kecil yang turut menggerakkan bilah besar bangsa ini. Untuk bisa menginspirasi, seorang guru harus terinspirasi dengan hal-hal baru yang menyebabkan pikirannya selalu terbuka dan tidak terjebak dalam rutinitas mentransfer ilmu tanpa hati. Karena itu, profesi guru harus dilindungi karena Kunci Pondasi terletak padanya.

 

 

Keempat komponen itu diikat/dipatok oleh satu buah pasak besar yang bernama Kesadaran Kritis untuk Indonesia. Kita sebagai alumni ITB tentunya tidak ingin bangsa Indonesia hancur. Temu alumni yang penulis rasakan selama ini hanyalah menjadi ajang temu alumni sukses dengan parameter materi (entah mobil, rumah, perusahaan, dll) sebagai tolak ukurnya. Alumni yang masih merintis karya nyata yang dimulai dari mimpi dan idelaismenya seakan tidak mendapat tempat terhormat. Aksi yang baik walaupun masih belum terlihat karena terkendala sesuatu (dana, sistem, kebijakan, dll) tentunya harus mendapat dukungan dari alumni yang mempunyai kunci membuka kendala tersebut. Hal ini dijalankan kalau kita memiliki kesadaran yang sama dan sepakat untuk membuat bangsa Indoensia maju dan merdeka secara de facto. Konsep ini bukan berarti alumni birokrat dan corporate berposisi di atas karena memberi dana dan membuka jalan, sedangkan institusi ITB dan alumni yang bergerak di pendidikan dasar berada di posisi di bawah karena menerima. Poin pentingnya terletak pada kesadaran akan kelebihan dan kekurangan posisinya masing-masing. Yang lebih memberikan ke yang kurang, yang kurang menerima tanpa merasa meminta. Namun kembali ke diri masing-masing, kalau tidak ingin dan tidak sepakat, maka tulisan ini biarlah hanya dianggap sebagai angin lalu dan sebuah manuskrip kosong belaka. Masih adakah anak bangsa jebolan ITB yang peduli? Kondisi ini mau sampai kapan dibiarkan?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Aplikasi Riliga dalam ranah kekuasaan Penulis

Konsep di atas bukanlah konsep mengawang-awang. Secara mikro penulis mencoba menerapkannya dalam posisi-posisi yang berada dalam kekuasaan penulis. Penulis tidak akan menjabarkannya secara detail tetapi akan menerangkannya secara umum saja.

Sebuah kegiatan nasional yang bertajuk gathering astronomi bermula dari gagasan beberapa alumni dan mahasiswa Astronomi ITB. Gagasan ini diformalkan dalam bentuk kepanitiaan yang awalnya bermodalkan mahasiswa dan alumni ITB. Kegiatan ini bernama Astronomical Gathering: Southern Sky Star Party 2007 yang berlokasi di Sumedang. Karena kegiatan ini, institusi yang awalnya kesulitan air menjadi tidak kekurangan air lagi karena penentu kebijakan di pusat membuka aliran dananya membangun bak penampungan air. Namun ada sayangnya, SD-SD lokal tidak terberdayakan karena tidak ada dana yang turun dari pemerintah daerah setempat. Dalam konsep riliga, kontribusi ITB dalam hal ini alumni dan mahasiswa membantu permasalahan air yang melanda institusi penelitian tersebut dengan membuatkan kegiatan nasional di tempat tersebut. Kegiatan nasional ini pun terpublikasikan dalam koran lokal dan nasional dalam beberapa kali penerbitan. Secara internasional, kegiatan ini pun telah dipublikasikan dan dipresentasikan oleh salah seorang alumnus ITB (Sdri. Avivah Yamani R.) dalam pertemuan internasional IAU (International Astronomical Union) di Yunani sehingga nama Indonesia tercatat sebagai salah satu bangsa yang memiliki interest terhadap ilmu pengetahuan khususnya astronomi.


Advertisements
Categories: Uncategorized

Himastron ITB: Sebuah Upaya Melahirkan Mentari-Mentari Muda

 Abstrak

Dunia kampus merupakan dunia yang penuh dengan romantika dan dialektika. Beragam pemikiran didapatkan untuk mencoba mencari dan mendapatkan kebenaran tertinggi baik dari segi ilmiah maupun sisi moral. Mahasiswa sebagai subjek harus ikut berperan aktif dalam pencarian ini karena dua fungsi yang dimilikinya yaitu sebagai guardian of knowledge dan guardian of moral value. ITB sebagai institusi pendidikan tinggi tempat kita ditempa merupakan ladang yang subur untuk menempa diri kita baik dari sisi akademik maupun dari sisi sosial kemasyarakatan yang dalam skup kecil  diwakili oleh Himpunan Mahasiswa Astronomi Institut Teknologi Bandung – Himastron ITB.


1.       Gerbang Pembuka

Akhirnya sampai juga kami di Gerbang Pembuka yang akan menghantarkan kami, para wisudawan lulusan Maret 2005, di gerbang alam realita di mana nilai-nilai yang ada di sana tidak seideal yang berada di dunia kampus. Banyak pengalaman berharga yang kami dapatkan selama ber-jibaku di kawah Chandradimuka ITB ini. Tangis, tawa, canda, amarah, patah semangat, kembali bersemangat, mungkin juga ada yang patah hati, pernah kami rasakan. Sisi akademik kami dapatkan di Departemen sedangkan sisi sosial kemasyarakatan, kami dapatkan dari lingkungan kampus baik di unit kegiatan mahasiswa, himpunan mahasiswa maupun dari pergaulan inter dan antar departemen/fakultas. Sehubungan dengan acara ini yang diselenggarakan oleh kawan-kawan Himastron ITB bekerjasama dengan Departemen Astronomi-FMIPA ITB, maka dalam manuskrip kali ini ijinkanlah penulis menuangkan penanya tentang Himastron ITB yang bagi penulis merupakan rumah pertamanya selama di Bandung ini. Namun sebelumnya kita samakan dulu istilah. Para awak kapal Himastron ITB biasanya menggunakan panggilan sayang kepada Himastron ITB dengan sebutan H* (baca: H Bintang). Selanjutnya saya akan menggunakan panggilan sayang ini, yaitu H*, yang mengacu pada Himastron ITB.

 

2.       Himastron ITB di Mata Penulis.

H* merupakan organisasi kemahasiswaan dengan ciri kuantitas anggotanya yang sedikit jika dibandingkan dengan himpunan lain di ITB. Keanggotaan dari himpunan-himpunan mahasiswa di ITB bersifat sukarela, tiada unsur paksaan, dan tergantung pilihan masing-masing, karena hidup itu sendiri tidak bisa lepas dari pilihan. Yang terpenting adalah masing-masing manusia memahami konsekuensi dari pilihannya. Misalnya di H*, anggotanya akan mendapatkan pengalaman menjamah teropong sejak dini sedangkan bagi yang tidak menjadi anggota, baru akan menjamah teropong ketika kuliah instrumentasi. Bagi non anggota tidak perlu berlelah-lelah rapat sedangkan bagi anggota H* harus mengikuti prosedur sebuah organisasi dengan rapat-rapat yang diselenggarakan dengan rutin. Kesemuanya ada keuntungan dan kerugiannya masing-masing.

Dalam organisasi kemahasiswaan, nilai kesukarelaan menjadi yang utama. Tidak ada nilai A atau B jika kita masuk ke organisasi ini namun ada nilai lain yang bisa kita ambil darinya. Karena itulah, dulu sekitar tahun 2002, para ketua-ketua himpunan dan unit kegiatan mahasiswa se-ITB sepakat menolak penilaian A atau B (atau C, D, E?) bagi para mahasiswa yang menjadi aktifis kampus. Penilaian ini pernah digagas oleh LPKM ITB (Lembaga Pengembangan dan Kesejahteraan Mahasiswa) yang pada waktu itu dikomandani oleh Tutuka Ariadjie. Secara organisasi, kami paham maksud ITB yang ingin menghargai civitas akademikanya yang berkegiatan di luar akademik, namun secara prinsip kami menolak rencana itu. Biarkan nilai-nilai kesukarelaan tetap bersemayam dalam organisasi kemahasiswaan karena kami menganggap ada nilai lain yang tidak kalah pentingnya dari A atau B yang tertera dalam transkrip.

Kembali ke H*, sisi lebih H* dapat kita liat dari sisi yang mungkin dinilai kurang oleh orang lain yaitu dari segi jumlah anggota. Dengan jumlah anggotanya yang sedikit maka peluang untuk mengeluarkan karakter positif pribadi anggota yang terpendam menjadi lebih besar. Setiap anggota memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk merasakan menjadi pemimpin. Potensi-potensi pribadi yang terpendam akan ‘dipaksa’ keluar jika anggota tersebut memiliki kemauan untuk mengeluarkannya dengan berkegiatan di H*. Jadi, jangan takut untuk menjadi ketua kegiatan-kegiatan yang dilakukan di H* karena biasanya ketua kegiatan ini akan mengalami perputaran sehingga setiap individu dapat merasakan ‘nikmatnya’ menjadi ketua. (^_^)v

 

3.       ITB di Mata Penulis

Pengalaman penulis bersama Laksmana, Damayanti, dan Adinugroho menjadi pelajaran berharga bagi penulis. Penulis merasakan sendiri bagaimana sains itu dibangun. Sains dibangun berdasarkan kebenaran ilmiah di mana benturan antar konsep/teori yang satu dengan lainnya mungkin terjadi. Kasus Gelombang yang kami angkat sampai ke forum rektor mendapat tanggapan yang serius dari rektor dan segera ditindaklanjuti di tingkat Dekan FMIPA yang saat itu diketuai oleh Cyntia. Rektor pada saat itu adalah Kusmayanto Kadiman yang saat ini menjabat sebagai Menristek di republik ini. Email penulis di-reply oleh Kadiman ke Dekan FMIPA, Kadept. Fisika, Kadept. Astronomi, dan dosen-dosen yang penulis sebutkan di email tersebut. Kasus gelombang terakumulasi saat diadakannya UAS (Ujian Akhir Semester) dengan jenis ujian presentasi per kelompok dengan soal ujian berupa mencari soal yang ada hubungannya dengan gelombang dari buku dan membuat solusinya. Dalam mengerjakan soal ini, kami banyak berdiskusi dengan Bpk. Dhani Herdiwijaya. Soal yang kami kerjakan, saat prsentasi berlangsung, dianulir oleh dosen karena dianggap bukan soal gelombang. Syukur Alhamdulliah dalam kasus ini, tidak ada dari anggota kelompok kami yang tidak lulus walaupun untuk lulus tersebut perlu perjuangan ekstra dan memerlukan waktu yang tidak pendek.

Pelajaran yang penulis dapatkan adalah penulis seperti merasakan apa yang terjadi pada zaman dahulu yaitu pertentangan antara Heliosentris versus Geosentris. Selain itu, sebagai mahasiswa kita harus kritis dan jika merasa ada yang kurang sreg, coba komunikasikan dahulu dan jangan segan-segan untuk memperjuangkan itu walaupun kondisi kita ditekan. Jangan hanya berdiam diri saja! (Kawan-kawan 2004 pasti paham akan hal ini karena kita, swasta, telah mencoba mengenalkan nilai-nilai ini dalam acara yang menguras emosi (^_^)v ).

ITB-BHMN sebaiknya memiliki sebuah wadah ilmiah yang bersikap netral untuk menengahi masalah seperti ini. Masing-masing pihak bertemu dihadapan wadah ilmiah ini dan mengemukakan alasannya secara sains. Diskusi sains seperti ini tentunya sangat menarik sehingga proses belajar mengajar tidak satu arah saja tapi bisa dua arah. Sang Muda adalah sang Guru dan sang Guru adalah sang Muda, untuk saling mengajar dan belajar.

 

4.       Masa Depan H*, Sebuah Esensi dari Kreasi

Louis Pasteur, penemu antibiotika penicillin, pernah mengatakan “Chance Favours The Prepared Mind”, artinya kesempatan berpihak pada mereka yang siap. Pernyataan ini sangat relevan dan jika kita hubungkan dengan H*, kita akan melihat di mana pernyataan ini berlaku. Saya akan mengambil contoh dari salah satu misi H* yaitu mensosialisasikan ilmu Astronomi. Ada yang beranggapan antara kuliah dan kegiatan mahasiswa keduanya tidak pas. Pernyataan ini tidak sepenuhnya tepat. Di H*, sosialisasi ilmu Astronomi melalui kegiatan-kegiatan pengamatan baik di Bandung maupun di luar Bandung, dapat dilakukan apabila anggotanya memiliki kemampuan dasar tentang ilmu-ilmu Astronomi. Bayangkan jika Anda  tidak belajar dengan tekun saat kuliah, maka ketika Anda harus menyampaikan ilmu ini ke publik, Anda tidak akan bisa bercerita banyak. Pendalaman materi Astronomi di kuliah dapat diaplikasikan di H*.

Kesempatan untuk bisa mensosialisasikan ilmu ini datangnya bisa sewaktu-waktu. APRIM yang akan dilakukan di pulau tempat penulis dilahirkan misalnya. Apa yang akan H* lakukan apabila H* diundang untuk mengisi acara di sana? Apakah sudah ada persiapan? Atau misalnya H* diundang oleh suatu perusahaan multinasional untuk memberikan wawasan-wawasan baru ala Astronomi kepada para manajer top perusahaan tersebut? Apakah H* PD menerima tawaran tersebut? Kawan-kawanlah yang nantinya harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari kesempatan-kesempatan yang mungkin datang ini.

Saya akan membagi H* masa depan menjadi dua bagian yaitu dari sudut ilmiah dan dari sudut popularisasi ilmu Astronomi di Indonesia. Keduanya menurut penulis sangat penting karena sisi ilmiah tidak bisa kita lepaskan karena kita belajar di sebuah institusi ilmiah bermerk gajah duduk (ITB), sedangkan dari sisi popularisasi Astronomi, tidak bisa kita pungkiri bahwa masyarakat Indonesia masih banyak yang mempertanyakan apa guna ilmu ini bagi mereka.

 

4.1  Sisi Ilmiah

H* harus berani merutinkan kajian-kajian yang sifatnya Astronomi dengan pemateri dari anggotanya sendiri, minimal sebulan sekali. Menurut Malasan, dulu kajian-kajian semacam ini rutin dilaksanakan di Bosscha namun sekarang tidak pernah lagi dilakukan. Malasan sendiri berniat menghidupkan kembali Bosscha dengan kajian seperti ini dengan memanfaatkan ke-16 anak bimbingannya. Penulis harapkan H* juga dapat meramaikan kajian ini karena sifatnya memang terbuka.

Telah beberapa kala teropong-teropong di Bosscha merasa sangat kesepian karena ditinggalkan penggunanya di mana salah satu penggunanya adalah mahasiswa. Saat ini tercatat dua teropong portable sering terlihat menganggur di Kantor GOTO. H* harus bisa, penulis mengistilahkan, “Menghimastronkan Bosscha dan Mem-Bosscha-kan Himastron”. Kegiatan-kegiatan pengamatan yang sifatnya ilmiah seharusnya dapat dilaksanakan secara kontinu. Targetnya adalah H* mampu membuat jurnal-jurnal ilmiah yang dipublikasikan secara internasional. Tak menutup kemungkinan H* akan diundang ke berbagai negara untuk mempresentasikan hasil pengamatannya. Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah pengadaan teropong Astronomi di H*. Teropong ini sangat berguna apabila ada anggota-anggota H* yang bermalam di sekretariat H*. Apabila cuaca cerah, maka dengan adanya teropong yang bersemayam di sekre H*, anggota akan lebih mudah mempraktekkan skill penggunaan alat astronomi pengintip ini.

Tak boleh dilupakan juga hubungan-hubungan yang telah terjalin dengan luar negeri harus tetap dijaga dan selalu ditambah baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. David Malin di Anglo Australian Observatory maupun Dennis A. Stone dari NASA. (Sekedar pemberitahuan: David Malin akan berulang tahun tanggal 28 Maret)

4.2  Popularisasi keilmuan Astronomi.

Pengalaman penulis ketika nimbrung di sebuah pelatihan tentang Migas di Hotel Hyatt  Bandung awal Januari 2005 ini menjadikan mimpi tersendiri bagi penulis. Training yang dilakukan bersifat eksklusif karena pesertanya hanya empat orang dengan ruangan ber-AC yang sangat nyaman. Kedepannya penulis sangat mengharapkan H* bisa melakukan hal yang serupa. Serupa yang dimaksud tentunya bukan tema tetapi lebih ke suasananya yang eksklusif. Presentasi yang kita lakukan, tentunya tentang Astronomi, ditujukan bagi masyarakat kelas atas yang haus akan ilmu pengetahuan. Tentunya mereka akan berani membayar mahal untuk kegiatan semacam ini. Poinnya adalah kita tunjukkan dulu bahwa kita ada.

Mungkin akan ada yang berpendapat kok kita jadi doyan duit dan menjadi eksklusif? Tidak, bukan ini tujuannya. Dari dana-dana besar yang kita peroleh maka kita dapat melakukan subsidi silang. Artinya H* bisa melakukan semacam road show dari dana yang didapat, misalnya ke 10 kota besar (atau kurang banyak?) di Indonesia, saat masa liburan akhir semester genap. Kita bisa menjangkau ke sekolah-sekolah atau ke institusi-institusi yang kurang mampu. Dengan demikian fungsi mahasiswa sebagai guardian of knowledge dapat kita lakukan. Kita turut mencerdaskan bangsa ini dengan produk ‘ilmu langitan’ yang kita punyai. (Fungsi mahasiswa lainnya adalah sebagai guardian of moral value).

Tentunya akan lebih efektif lagi jika road show ini diliput oleh media komunikasi. Majalah bertajuk sains Astronomi populer berbahasa Indonesia menjadi mimpi kita bersama dan mimpi ini sepertinya menarik untuk diwujudkan di alam realita. Saat ini, secara online, majalah Astronomi Indonesia ini telah terbit dan dapat diakses pada alamat www.centaurusonline.com. Penulis ‘kebetulan’ mendapat tugas sebagai editor sekaligus tergabung dalam dewan redaksi bersama Denny Mandey. Versi cetak sedang digodok dan kami mengharapkan kita mengembangkan majalah ini bersama-sama demi popularisasi sains di kepala ‘hercules-hercules’ yang tersebar di penjuru raya Indonesia. Mengenalkan kebijaksanaan sains dengan Astronomi sebagai menu utamanya.

 

5.       Kesimpulan

Penulis tidak akan membahas panjang lebar dan penulis ingin menyimpulkan dalam dua buah kutipan. Kutipan pertama dikemukakan oleh Mahasena Putra di akhir sidang sarjana saya dahulu, 17 Desember 2004: “Dalam sains, apapun yang Anda dapatkan walaupun itu kecil, hal tersebut merupakan sesuatu yang besar.” Kutipan pendek kedua merupakan kutipan yang pernah dikutip oleh Dading Hadi Nugroho dalam sebuah seminar tentang Mars di Tahun 2003 bertempat di Aula Barat ITB: “Kalau bukan kita, siapa lagi?

 
Referensi

 Baskoro, A.A., 2004. Catatan Perjalanan Pengembara Malam.

Baskoro, A.A., 2005. Himastron ITB: Menoleh Masa Lalu, Meneropong Masa Depan.

Santoso, T. 2004.  Chance Favours The Prepared Mind (www.tanadisantoso.com).

 

 

 

 

 

 

Created by Aldino Adry Baskoro, © nightwalker2005

Contact: dynostron_13@yahoo.com

Categories: Uncategorized

Hello world!

May 20, 2007 1 comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories: Uncategorized