China, Negeri Para Naga dan Cendikia

July 28, 2007 1 comment

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China!” *)

Kurang lebih itulah sabda rasulullah kepada umat muslim pada saat itu. Saatku di Bali, saat mendengarkan ceramah Jumat, sang khatib menghubungkan hadist ini dengan maksud agar umat muslim saat itu mencontoh China karena China secara ‘ketauhidan’ sangat baik. Contohlah China karena mereka sangat taat kepada Tuhan.

Pengalamanku pun bertambah-tambah dan dari serangkaian sastra China yang pernah kubaca, sepertinya pendapat khatib Jumat saat aku bersembahyang Jumat di Bali dulu kurang tepat. Secara ketauhidan, China bukanlah contoh Islam karena di China tidak pernah diturunkan agama Samawi (agama langit). Agama Samawi bersumber pada ketauhidan yang bersumber pada satu Tuhan yiatu Allah. Agama langit ini diturunkan secara estafet oleh nabi dan rasul.

Lantas, mengapa rasulullah menyuruh umatnya saat itu untuk menuntut ilmu sampai ke negeri China, melewati jalan sutra ataupun melewati samudra nan biru?

Dari pengalamanku dalam membaca kisah-kisah klasik China kumendapati sumbernya adalah ilmu. China adalah obor ilmu saat itu. Mungkin sebanding atau nomer dua setelah Yunani (aku harus mengadakan penelitian di sini). Kedua peradaban ini menjadi pemicu Peradaban Islam untuk maju pada saat itu di mana tongkat estafet ilmu diestafetkan dari Yunani dengan cara mentranslasi karya-karya filusuf dan ilmuan Yunani: Ptolomaeus, Archimedes, dsb.

Kembali ke China, dari segi kebijaksanaan yang bersinggungan dengan nilai moral dan hati nurani manusia, karya sastra China banyak mengangkat kisah-kisah yang membuat hati tersentuh bahkan sampai tak sadar mata menitikan tetesan beningnya karena sepertinya kita merasa “Apakah orang-orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, moralitas, integritas, kasih sayang, dan kehormatan masih ada di negeri Zamrud katulistiwa ini?”

Mengapa rasulullah mengajak kita belajar dari China?

Penulis mengelompokannya menjadi dua:

1. Agama mengajarkan kita untuk menjadi orang baik, orang yang menghargai dirinya dan orang lain sehingga terjadi tatanan yang stabil, dinamis, dan adil dalam masyarakat yang bersumber pada kepercayaan kepada sang Khalik. Bahwa kita senantiasa diawasi oleh-Nya sehingga tidak ada alasan untuk berbuat sesuatu di luar kepatutan karena sadar Yang di Atas selalu mengawasi dengan segala kuasa-Nya. Di China seperti misalnya yang tercantum dalam buku Kumpulan Kisah-Kisah Dinasti Ming Berkumpulnya Kembali Naga & Harimau termuat suatu kebijaksanaan yang sangat tinggi. Bagaimana agar orang muda sekarang tidak mengulang kesalahan orang di masa lalu, bagaimana orang yang mulanya baik tetapi karena tidak bisa menahan nafsunya akhirnya namanya menjadi rusak dan ia berakhir tragis, atau ada pula pejabat yang tidak menyalahgunakan kekuasaan saat ia berkuasa. Kita kutip secuplik ceritanya yang tercatatkan dalam kaligrafi dan lukisan indah tentang “Manusia di dunia memuliakan mulut…”. Kisah indah ini ternyata saling berkaitan. Kaisar yang baik dan jujur sangat menghargai nilai-nilai kejujuran dan kebaikan. Kaisar yang baik ini dikelilingi orang-orang yang baik. Dan orang muda yang baik saat di masa mudanya ia pernah memiliki kesalahan namun di masa ia mendapatkan posisi ia tidak menyalahgunakan kekuasaannya. Terdapatlah seorang muda bernama Ma Zhou, seorang cendikiawan yang cerdas namun ia tidak mempunyai kenalan yang bisa mengantarkannya pada jabatan penting. Bakatnya seperti tersia-sia dan saat bakatnya diketahui oleh Kepala Daerah Da Xi, Ma Zhou diangkat menjadi guru. Namun kelakukannya yang tidak baik yaitu mabuk-mabukan dan sering berkata-kata kasar saat mabuk membuatnya menjadi guru yang tak pantas dicontoh. Karena malu terhadap kelakuannya, akhirnya sang guru ini memutuskan untuk mundur dari jabatan guru dan pindah ke Xinfeng. Di kota Xinfeng inilah seorang pelukis dan kaligrafis menggambarkan dan menuliskan sebuah karya indah untuk menghormati cendikiawan Ma Zhou yang mencuci kakinya dengan arak untuk menghormati kakinya. Saat itu kedai sangat ramai sehingga Ma Zhou dengan marah menggebrak meja minta untuk dilayani. Apakah karena ia bukan orang penting ia tidak dilayani. Mengetahui hal ini, pemilik kedai itu pun segera melayani Ma Zhou. Ma Zhou menginginkan seember air untuk mencuci kakinya namun ternyata ember yang dikehendaki tidak ada karena telah habis semua dipakau oleh tamu-tamu lainnya. Ma Zhou akhirnya meminta kepada pemilik kedai itu arak. Setelah beberapa teguk ia pun mencuci kakinya dengan arak tersebut. Mengetahui hal tersebut, pemilik kedai merasa bahwa Ma Zhou bukanlah orang sembarangan. Setelah mengetahui duduk persoalannya pemilik kedai menyarankan kepada Ma Zhou untuk pindah lagi ke kota Chang’an agar bakatnya tidak tersia-sia. Tak lupa Ma Zhou diberi bekal selama perjalanan dan pemilik kedai menyarankan Ma Zhou untuk menginap saja di saudaranya yang ada di Chang’an yang saat itu berprofesi sebagai penjual kue dadar. Ma Zhou tidak dapat menolak pemberian pemilik kedai itu dan berjanji tidak akan melupakan kebaikannya. Sang pemilik kedai dihadiahi oleh Ma Zhou sebuah kaligrafi yang menawan yang menggambarkan kebaikan sang pemilik kedai. Singkat cerita, di Chang’an akhirnya ia mendapat rekomendasi oleh pejabat bernama Chang He untuk bisa bertemu dengan kaisar Taizong. Sang kaisar terpukau oleh nasihat yang dituliskan pada manuskrip yang dibawa Chang He dan Chang He pun tidak mengambil kesempatan dengan mengakui hal itu sebagai buah pikirnya. Ia pun memberitahu sang kaisar bahwa tulisan itu adalah buah pikir Ma Zhou. Kaisar pun mengundang Ma Zhou. Namun, sayang Ma Zhou kembali ke hobi semula yang mabuk-mabukkan. Undangan pertama kaisar Taizong tidak ia hadiri karena mabuk. Demikian berturut-turut sampai undangan ketiga barulah ia datang. Di sini juga terlihat kebijaksanaan kaisar, bahwa kaisar sangat menghormati orang baik. Ia tidak mengumbar arogansinya karena merasa dilecehkan. Pada undangan ketiga, Ma Zhou pun minta maaf kepada kaisar dan berjanji tidak akan terjerumus dalam hal-hal yang bodoh lagi. (Kebijaksanaan sang Kaisar, meluluhkan hati sang cendikiawan). Akhirnya sang cendikiawan diangkat menjadi Pejabat Pemeriksa. Ma Zhou yang saat itu telah menjadi Pejabat Pemeriksa pun mengundang pejabat-pejabat daerah untuk berdiskusi. Ada salah seoarng pejabat daerah yang berkali-kali menolak untuk hadir karena ketakutannya. Ia adalah Kepala Daerah Da Xi. Ia tidak lain adalah pejabat di mana Ma Zhou pernah menjadi guru di sana dulu. Sang pejabat pun akhirnya datang dan dengan ketakutan memohon maaf atas ketidaktahuannya dan kekhilafannya di masa lalu karena tidak melihat bakat besar Ma Zhou saat Ma Zhou menjadi guru di kota Da Xing. Di sini kebijaksanaan Ma Zhou diperlihatkan. Ma Zhou segera bangkit mengangkat Kepala Daerah Da Xi yang sedang bersujud itu sambil mengatakan bahwa sebenarnya Ma Zhou-lah yang salah. Saat muda ia terjebak dalam arak dengan bermabuk-mabukkan dan sering berkata-kata kasar. Suatu hal yang sangat tidak pantas dilakukan seorang guru yang memiliki murid. Sangat bijaksana sekali. Saat kita memiliki kesempatan untuk membalas, ternyata kita tidak melakukannya dan secara ksatria mengakui kesalahannya. Hal ini dicatat oleh penyair di masa kemudian.

Seorang negarawan besar bangkit dari antara pemabuk Sang perempuan penjual kue dadar juga bukan orang kebanyakan

Lelaki di masa itu tak memiliki mata Persia

Dan membiarkan mutiara cemerlang terkubur dalam debu.

Kunci dari mengapa Ma Zhou bisa menjadi pejabat adalah pada seorang perempuan penjual kue dadar yang sangat bijaksana yang dijuluki “Nyonya” Wang oleh penduduk Chang’an. Ia sangat menghargai kesucian dan kehormatannya. Dialah yang menghantarkan Ma Zhou untuk mengenal Chang He dan Chang He-lah yang menghantarkan Ma Zhou untuk mengenal kaisar. Memang sangatlah tepat hadist rasulullah, “Wanita adalah tiang Negara” Jikalau baik wanitanya maka akan kuatlah Negara namun jikalau rusak wanita maka akan hancurlah negara. Akhirnya, Ma Zhou dan Nyonya Wang ditakdirkan untuk menikah dan hidup bersama dengan restu sang Kaisar Taizong.

2. Yang kedua adalah peradabannya yang besar dan budaya pencatatan sehingga kita di zaman sekarang masih bisa menikmati kebijaksanaan China masa lalu. Ibnu Batutah seorang pengelana sempat mencatatkan kekagumannya kepada armada laut bangsa China yang luar biasa. Bahkan ia diberi kesempatan untuk masuk ke dalam kapal sang Kaisar. Pencapaian yang luar biasa ini tentunya tidak bisa lepas dari baik dan terstrukturnya manajemen pengelolaan sumber daya manusia dan alam serta ilmu pengetahuan yang tinggi sehingga bisa menghasilkan kapal-kapal raksasa yang mampu mengarungi samudra dalam upaya menjalin persahabatan dengan negara-negara jauh. Pengetahuan tentang arah dan posisi bintang juga sangat mereka kuasai sehingga tidak tersesat dalam pelayaran. Mereka bekerjasama dengan para pengembara dari Arab yang menguasai ilmu bintang. Dalam sejarah kita mengenal Laksamana Cheng Ho pada masa kekaisaran kaisar Zhu Di pada era dinasti Ming. Saat ini memang ada kontroversi sebuah teori yang mengatakan bahwa Chinalah yang pertama kali menemukan benua Amerika, sekitar tahun 1421. Teori ini masih harus dicari lagi banyak bukti pendukung karena penentangnya juga banyak yang rata-rata bangsa Eropa.

Jika kita kaitkan dalam konteks kekinian, sabda rasulullah mengacu kita untuk mempelajari peradaban-peradaban besar yang saat itu sedang menguasai dunia. Saat ini peradaban dipegang bangsa Barat seperti Eropa dan Amerika Serikat. Bangsa Asia lain adalah Jepang, Korea Selatan, dan China (Sang Naga ini masih bergeliat rupanya). Tapi sang tokoh utama zaman ini adalah Amerika Serikat. Apakah ini berati kita harus belajar ke Amerika Serikat? Saat ini penulis menilai, Amerika Serikat hanya unggul pada poin 2 yaitu pada pencapaian ilmu pengetahuan saja. Poin satu ternyata mereka lemah dan malah banyak mengacu ke bangsa Timur. Penulis sudah membaca dua buku terbitan barat antara lain Seven Habit dan The Eight Habit-nya Stephen R. Covey yang setelah penulis baca nilai-nilai yang terkandung di dalamnya saripatinya adalah dari bangsa Timur. Oleh karenanya, penulis menjadi timbul keinginan kuat untuk bisa menjejakkan kakinya di negeri Tirai Bambu di mana Sang Naga pernah dilahirkan. Belajar di tempat para cendikiawan besar pernah hidup tentunya sangat luar biasa. Dan mungkin peluang itu ada tetapi harus dengan langkah-langkah yang bertahap. Kepada pembaca, penulis mohon dukungannya!

Bandung, 20 Juni 2007

Pengembara Malam

(Aldino Adry Baskoro)

*) Menurut Muhammad Nashiruddin (1986), hadist di atas termasuk hadist dhaif (lemah) dan maudhu (palsu). Waduh, bingung saya…? Mana yang benar yah?

Advertisements
Categories: Wisdom Values

Hikayat Sebuah Kapal

kawan
aku akan bercerita
cerita?
tentang apa?
tentang sebuah kapal
kapal? ada apa dengan kapal?

Hmmm… ada pelajaran yang bisa kita ambil dari kapal
Begini…
di suatu pagi yang cerah
di mana burung-burung camar beterbangan dengan gemulai mengikuti permainan hembusan fluida bergerak yang bernama angin.
di lautan lepas nan biru
di mana langit pun mengharu biru akibat scattering
tampaklah sebuah kapal layar berbendera mirip bendera Inggris?

Oooo…bukan bendera Inggris, tetapi bendera dengan konstelasi crux
Bendera apakah gerangan?
Tak jelaslah aku memandangnya…
Kapal ituh nak’ jauh di pelupuk mata…
Awak tunggu saja di sini
Biar bayu membawa sang Kapal kemari…

(Semilir angin pun berhembus membawa sang kapal keharibaan awak)

Kapal itu kecil jika berbanding dengan kapal lainnya…
Tapi ada yang berbeda di balik rupanya nan imut, kecil, dan rupawan
Anggun tapi tak terlihat, kecil namun berisi, kuat? tapi seperti rapuh?
Hmm, awak tertarik dengan sang nahkoda…Siapakah gerangan?
Awak pun ingin menumpang kapal itu…

“Woooi, Bagindo Nahkoda…bolehkan Awak naik melihat-lihat bersama Paduka!”
Sang nahkoda pun berkata:” Bolehlah, tak ada yang melarang! Silakan naik Anak Muda!”
Awak pun naik dan rupa sang kapal pun tampaklah jelas.
Tiga buah layar berkibar dengan bersemangat
Sebuah bendera pun ikut-ikutan berkibar, bendera berkonstelasi crux
Rupanya fluida tak kasat mata ini boleh juga dalam hal semangat..
Lantas, pandangan awak pun menyapu setiap sektor dari arah jam satu ke arah jam satu lagi dengan arah perputaran counterclockwise.
maka terdapatlah lunas kapal, buritan, haluan, geladak, dek, kabin, tambang, jangkar…
Matrial pembentuknya pun beragam: kayu, besi, aluminium, baja, rotan, plumbum, dan apalagi aku tak tahu namanya.

Sang nahkoda memperhatikan tingkah laku awak dan ia pun berkata:
” Anak Muda, liatlah sekeliling. Apa yang Kau lihat? Kapal mungil ini ternyata kompleks bukan? Coba Anak pikir, andai kapal ini hanya kayu saja, atau hanya besi saja, atau hanya jangkar saja, atau hanya layar saja, atau hanya tambang saja! Apakah bisa kita sebut kapal?
Benda ini bisa disebut kapal karena perbedaan-perbedaan yang ada. Masing-masing perbedaan diposisikan untuk membuat kekuatan. Sang layar pun akhirnya dapat berkibar, sang jangkar pun dapat mencakar dengan kuat saat diperlukan, dan sang kapal pun akhirnya dapat kita sebut kapal karena matrialnya diposisikan menjadi kapal. Tapi ingat, sang kapal juga perlu nahkoda. Nahkoda yang berupa visi. Kita pun bisa mengantar dan diantarkan olehnya.”

Awak pun bertanya pada sang nahkoda:” Bolehkan Awak ikut berlayar?”
Bagindo nahkoda pun menjawab: “Ooo, tentu boleh Anak Muda, tapi Kau harus berjanji dahulu,berjanji pada dirimu sendiri, bahwa kita akan berproses, bahwa kita akan saling belajar, bahwa kita akan membuat perubahan bersama, bahwa kita akan mengakui perbedaan, bahwa dengan perbedaan itu kita bisa membuat kekuatan, bahwa dengan kebersamaan kita bisa berlayar bersama. Bila Anak Muda melihat sesuatu yang belum sempurna, maka sempurnakanlah. Bila Anak Muda melihat sesuatu yang kurang, maka lengkapilah. Bila Anak Muda menemukan kerusakan, maka perbaikilah…
Mari kita berlayar menyibak misteri semesta bersama
Sanggupkah Kau berjanji wahai Anak Muda…?”

Awak pun terdiam….Akankah awak akan berjanji..? Berjanji pada diri sendiri..?
Sang nahkoda pun bertanya: “Kami menunggu jawabanmu wahai Anak Muda, untuk mengganti kata KAMI menjadi KITA…”

 

Pengembara Malam

Bandung, 13 Maret 2004

Categories: Sastra

Hello world!

May 20, 2007 1 comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories: Uncategorized